BudayaDaerah

Menjaga Akar, Menumbuhkan Masa Depan: Merawat Kebudayaan Minangkabau

136
×

Menjaga Akar, Menumbuhkan Masa Depan: Merawat Kebudayaan Minangkabau

Share this article

KEGIATAN SOSIALISASI PROGRAM DAN WORKSHOP KEBUDAYAAN

[Selasa, 10 Februari 2026]

Taram – Kabupaten Lima Puluh Kota (Newsline Nusantara): Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc., MA. melakukan Kegiatan Sosialisasi Program dan Workshop Kebudayaan dengan tema “Menjaga Akar, Menumbuhkan Masa Depan: Merawat Kebudayaan Minangkabau”. Kegiatan Sosialisasi Program dan Workshop Kebudayaan merupakan rangkaian dari pelaksanaan kegiatan Pendayagunaan Ruang Publik yang berjudul Festival Surau Minangkabau dalam Wawasan Islam dan Budaya Nusantara. Kegiatan Sosialisasi Program dan Workshop Kebudayaan dilakukan pada Selasa, 10 Februari 2026  dan bertempat di Gedung Serbaguna Taram Taram, Kec. Harau, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Penanggungjawab kegiatan ini Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc., MA menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Kegiatan ini disukseskan dari berbagai kalangan mulai dari pejabat pemerintah pada bidang kesenian dan kebudayaan, pelaku kesenian, pemerhati, dan pelaku budaya, serta tetua adat dan para niniek mamak dan bunda kandung. Kegiatan ini untuk menyampaikan tujuan dari kedatangan Nurkhalis Muchtar dan tim kedaerah untuk melakukan berbagai kegiatan seputar pembahasan Surau dan kebudayaan minangkabau untuk mendayagunakan ruang publik yang ada dilingkungan tersebut. Susunan acara pada kegiatan ini diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu indonesia raya, sambutan dari panitia pelaksana sekaligus membuka acara, kemudian penyampaian materi dari tiga narasumber dengan tema yang berbeda-beda yang dipandu oleh moderator.

Secara garis besar pembahasan yang dibahas dalam sosialisasi ini menyangkung dengan kebudayaaan minangkabau dan Surau Tuo taram,  dilanjutkan dengan sesi diskusi, penyerahan plakat, foto bersama dan penutup. Adapun pembahasan yang diulik dalam proses sosialisasi ini seputar: (1) Sentuhan Syech Taram: Melipat Adat dalam Syariat, Menjemput Hati Urang Awak; (2) Menjaga Nilai Nilai Adat dalam Kontek Kekinian Demi Melestarikan Kebudayaan Minang Kabau di Nagari Taram; dan (3) Surau Tuo dan Kearifan Negeri Taram. Yang disampaikan oleh Bapak Febriandi S.Pd.I. (Dt. Marajo Bosa Nan Koruk), Bapak Masri Fabrar (Dt. Ketemanggungan Nan Panjang) dan Bapak Muhammad Yahya. Dan juga dimoderatori oleh Bapak Sekretaris Desa Taram.

Kegiatan berjalan dengan baik dan berdampak pada antusiasme masyarakat yang tinggi yang tentunya banyak benefit yang diterima oleh peserta kegiatan. Adapun peserta kegiatan ini berjumlah 50 orang dan panitianya sebanyak 10 orang. Nurkhalis Muchtar selaku ketua pelaksanaan kegiatan ini telah mempersiapkan kegiatan dengan sangat baik, mulai dari prakegiatan kunjungan persiapan sebelum kegiatan, pelaksanaan hari H kegiatan, dan penyelesaian dan melakukan beres-beres dihari setelahnya bersama seluruh panitia dan pihak terkait. Output yang dihasilkan dari kegiatan ini banyak informasi baru yang dapat diketahui oleh seluruh pihak tentang sejarah surau tuo, kesenian, dan kebudayaan mingkabau serta kontribusi dan harapan yang dapat dilakukan oleh generasi berikutnya dalam mencapai tujuan pelestarian budaya.

Bapak Febriandi menuturkan Dakwah Syech Taram adalah contoh nyata dari harmonisasi antara agama dan budaya. Beliau berhasil “melipat adat dalam syariat” bukan dengan cara menghapusnya, melainkan dengan memperbaiki tatanan yang salah (seperti tradisi sesajen di Bukik Talio) dan memperkuat tatanan yang baik melalui pendekatan yang sesuai dengan psikologi Urang Awak. Sebagai penerus perjuangan dakwah, terutama bagi praktisi pendidikan dan tokoh masyarakat di Nagari Taram, sangat penting untuk tetap mengedepankan metode Mau’izhah yang disertai keteladanan. Janganlah kita terjebak pada formalisme agama yang sempit yang justru menimbulkan perpecahan di tengah umat.

Kemudian, Menjaga Nilai Tradisi. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah Memberikan Support terhadap surau surau melaksanakan pengajian. Mengadakan mtq. Khatam al quran. Mendirikan pesantren. Memberikan pelayanan kepada pengunjung surau tuo taram. Peran surau dan rumah gadang. Berfungsi sebagai social, tempat Pendidikan baik agama atau adat. Pelestarian kesenian dan seni silat. Membentuk sanggar. Menjadwalkan Latihan silek, ucap Masri fabrar.

Muhammad Yahya menyampaikan Tuangku 21 adalah Kepunyaan Tuo Kampuang, tapi tidak harus Tuo kampuang dia bisa menunjuk seseorang atau dari hasil musyawarah kampung tersebut. Seseorang yang mempunyai ilmu Agama dan punya kemampuan untuk  Mambaok Boban sebagai seorang Malin / Tuangku 21. Tuangku 21 ialah jelmaan dari ninik mamak nan 24 dan terdiri dari Imam, Khatib, Bilal dari masing masing suku yang ada di nagari taram. Tuangku 21 berasal dari 7 suku di taram dan tiap suku mengutus 3 orang, jadi jumlah nya 21. Bagi suku yang mempunyai 4 kampung jika imam meninggal di kampung pucuk (khatib di kampung bandaro, dan bilal di kampung panglimo) maka untuk giliran selanjutnya khatib di kampung bandaro naik jadi imam. Bilal di kampung nan limo naik menjadi khatib. Dan dari kampung khadi sebagai bilal. Sedangkan kampung pucuk tidak tidak mengirim utusan tetapi tetap mambantu dalam pelaksanaan tugas di surau tuo dan masjid Baitul kiramah. Bagi suku yang mempunyai 3 Kampung jika imam meninggal di kampung pucuk, khatib di kampung bindaro, dan bilal di kampung panglimo maka untuk giliran selnjutnya khatib kampung bindaro naik jadi imam, bilal di kampung panglimo naik jadi khatib dan bilal di kampung pucuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *