BudayaDaerahEkonomiEntertainmentKulinerNasionalWisata

MELESTARIAN CAGAR BUDAYA GARUT – RAPAT KOORDINASI YAYASAN LAWUNG GIRI PAMUKTI DENGAN PERWAKILAN BPK WILAYAH IX GARUT JAWA BARAT

147
×

MELESTARIAN CAGAR BUDAYA GARUT – RAPAT KOORDINASI YAYASAN LAWUNG GIRI PAMUKTI DENGAN PERWAKILAN BPK WILAYAH IX GARUT JAWA BARAT

Share this article

[Sabtu, 18 Januari 2025]

Cangkuang, Garut (Newsline Nusantara): Yayasan Lawung Giri Pamukti melakukan rapat koordinasi bersama Perwakilan BPK Wilayah IX Garut Jawa Barat dalam rangka membahas rapat koordinasi menjalin silaturrahmi dan membahas tentang warisan budaya yang ada di Kabupaten Garut. Rapat Koordinasi ini merupakan bagian kecil dari pelaksanaan kegiatan Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif yang berjudul Penciptaan Seni Tradisional Kolaborasi pada Festival Atraksi Jampana Kabupaten Garut Jawa Barat. Kegiatan Rapat Koordinasi ini dilakukan pada Sabtu, 18 Januari 2025 dan bertempat di Balai Pertemuan Cagar Budaya Situs Cangkuang, Kampung Pulo, Desa Cangngkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut Jawa Barat. Penanggungjawab kegiatan ini dari Yayasan Lawung Giri Pamukti, Herman Hidayat menyampaikan kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

Koordinasi ini tentunya sebagai langkah awal dalam menyambung silaturrahmi dan juga berfungsi untuk menggali informasi tentang warisan budaya ada apa saja yang dikelola oleh perwakilan BPK Wilayah IX Garut Jawa Barat. Yayasan Lawung Giri Pamukti disambut baik oleh Petugas Perwakilan BPK Wilayah IX Garut Jawa Barat yaitu Bapak Zaki Munawar, S.H. selaku pengelolan didaerah tersebut.

Sebelum memasuki kawasan Situs Cangkuang, terlebih dahulu kita melewati kawasan Kampung Pulo. Kampung Pulo terletak di sekitar kawasan Danau Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut. Untuk mencapainya, pengunjung bisa menggunakan perahu kecil dari dermaga menuju pulau tempat kampung ini berada. Selain itu juga bisa ditempuh melalui jalan lain dengan berjalan kaki.

 

Pengurus Yayasan Lawung Giri Pamukti menyampaikan maksud dan tujuan dalam pertemuan ini untuk bersilaturrahmi dan menyampaikan beberapa hal terkait dengan cagar budaya situs cangkuang dan kampung bulo yang dikelola. Penangungjawab kegiatan Herman Hidayat menyampaikan ingin mengetahui secara mendalam tentang kampung pulo dan situs cangkuang yang merupakan kawasan yang menjadi perhatian pelaku seni dan budaya, ujar Herman Hidayat.

Bapak Zaki Munawar menuturkan Kampung Pulo dipercaya memiliki kaitan erat dengan Eyang Embah Dalem Arief Muhammad, seorang penyebar agama Islam di daerah Garut pada masa lalu. Menurut legenda, kampung ini dibangun oleh tujuh keturunan Eyang Embah Dalem Arief Muhammad, yang diwakili oleh tujuh rumah adat yang masih berdiri hingga kini.

 

Beliau juga menambahkan Kampung Pulo memiliki tujuh rumah adat yang dibangun berjejer dengan bentuk dan ukuran yang sama. Enam rumah di antaranya dihuni oleh warga, sedangkan satu rumah digunakan sebagai musolah (tempat ibadah). Rumah-rumah tersebut berbentuk panggung dengan material kayu dan atap dari ijuk, mencerminkan arsitektur tradisional Sunda. Di depan rumah adat terdapat lumbung padi yang melambangkan kesejahteraan masyarakat.

Kampung Pulo menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah di Garut. Pengunjung dapat belajar tentang kehidupan masyarakat adat, melihat langsung rumah tradisional, dan menikmati keindahan alam sekitar Danau Cangkuang. Meskipun memiliki daya tarik yang kuat, Kampung Pulo menghadapi tantangan dalam menjaga kelestarian budaya dan lingkungannya. Perlu adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk memastikan bahwa warisan budaya ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang, tutur Zaki Munawar.

 

 

“Setelah melewati kawasan Kampung Pulo, tibalah di Situs Cangkuang. Di dalam lingkungan tersebut terdapat juga Meseum Situs Cangkuang yang berisi peninggalan batu-batu dan beberapa manuskrip, diantaranya terdiri dari manuskrip islam yang berisi tulisan-tulisan arab, batu-batu peninggalan, dan beberapa benda lainnya” Ujar Pengurus Yayasan Lawung Giri Pamukti, Yudi Habibi.

 

Situs Cangkuang adalah salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Situs ini terkenal karena memiliki Candi Cangkuang, satu-satunya candi Hindu yang ditemukan di Jawa Barat. “Candi Cangkuang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi pada masa Kerajaan Sunda. Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1966 oleh tim arkeolog setelah terkubur selama berabad-abad. Candi ini memiliki struktur sederhana dengan atap bertingkat, khas candi Hindu. Di dalam candi terdapat arca Dewa Siwa yang menjadi bukti pengaruh Hindu di daerah ini. Candi Cangkuang digunakan sebagai tempat pemujaan dan kegiatan keagamaan pada masa lalu.” tutur Zaki Munawar.

 

Banyak peninggalan budaya yang ada di Garut ini belum dilestarikan dengan baik, butuhnya dukungan dari berbagai pihak untuk dapat mengumpulkan, mendata, serta merawat peninggalan yang masih tersisa sehingga tidak termakan oleh perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi. Penyebaran informasi tentang budaya juga selalu dilakukan kepada generasi muda agar perlahan mulai peduli terhadap seni dan budaya didaerah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *